Bulan Ramadhan segera menjelang,
Rahmat dan ampunan Allah Swt. pun akan datang, lengkap dengan pahala-Nya yang
menjulang. Di saat seperti ini, Rasulullah telah memberi sunnah.
Pertama, memperbanyak
puasa sunah di bulan sya’ban (HR Bukhari). Secara eksplisit, Rasul mengajak
membiasakan puasa sunah sebagai latihan menghadapi medan pertempuran melawan
hawa nafsu yang sesungguhnya : puasa fardhu. Secara implisit, disunnahkan
secara fisik dan kejiawaan kita dikondisikan, kesehatan dijaga, hati ditautkan.
Pelan-pelan kerinduan kepada bulan suci dibangkitkan hingga ketika malam
pertama Ramadhan menghampiri, kerinduan itu langsung diwujudkan dengan
menegakkan perintah dan anjuran-Nya saat Ramadhan, persis pelampiasan kerinduan
seseorang kepada kekasihnya yang setahun tak bersua.
Kedua, bergembira secara
terbuka dan menyebarkannya kepada kaum muslim. Rasul menunjukkan keriangannya
dan berkali-kali memompa perasaan yang sama kepada para sahabat dengan
menyampaikan warta gembira, seperti dibukakannya pintu surga, pintu neraka
ditutup, dan dibelenggunya para setan (HR Ahmad dan Nasa’i).
Juga adanya suatu malam yang bila
beramal saat itu akan diganjar lebih baik daripada amal selama seribu bulan (QS
Al-Qadr [97] : 2). Allah Swt. pun berjanji mengampuni dosa-dosa kita di masa
lalu jika benar-benar berpuasa dan menegakkan malam-malam Ramadhan (HR
Tirmidzi, Abu Dawud, Nasai dan Ibnu Majah). Tentu saja, kecuali dosa syirik,
dosa-dosa besar yang memerlukan tobat khusus seperti zina, serta dosa-dosa
penganiayaan manusia lain yang membutuhkan pemaafan korban lebih dulu, seperti
pembunuhan (penzaliman fisik), atau korupsi dan kejahatan perdagangan
(penzaliman harta).
Bergembiralah setiap hari karena
Rasulullah Saw. Bersabda bahwa seseorang yang berpuasa bergembira dua kali,
yakni saat berbuka dan bertemu Allah Swt. (HR Muslim). Karenanya, tiada tempat
rasa sedih dan gelisah, juga bayangan akan kelaparan, atau kesulitan berdagang
makanan/minuman di siang hari, serta godaan tidak mampu bekerja jika berpuasa. Hanya
orang kafir dan munafik yang bermuram durja setiap Ramadhan menyapa.
Ketiga, di akhir bulan
Sya’ban Rasulullah Saw. Mengumpulkan orang-orang serta berpidato tentang
keutamaan Ramadhan dan dorongan memperbanyak amal (HR Ibnu Khuzaimah).
Meskipun kondisi saat ini sedang
terjadi wabah yang membuat duka seluruh dunia termasuk umat muslim, namun kita
tetap harus bersyukur dan berbahagai menyambut datangnya bulan Ramadhan. Semoga
Ramadhan menjadi titik tolak perubahan pemikiran, perasaan, dan tindakan manusia
agar semakin mendekat kepada Allah Swt. sehingga Allah Swt. mengampuni kita
semua dan mengangkat wabah yang terjadi saat ini.
(Abdul Halim Fathani, Ensiklopedi Hikmah)




